BIREUEN – Tim Universitas Syiah Kuala (USK) melakukan simulasi penggunaan teknologi tepat guna melalui Program PKM Mahasiswa Berdampak yang difokuskan pada pemberdayaan masyarakat dalam pemulihan dampak bencana di Sumatera tahun 2026. Kegiatan ini berlangsung di Desa Teupin Raya, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen, dengan menitikberatkan pada penguatan sektor pertanian dan peternakan warga pascabanjir.

Program yang dipimpin Dr. drh. Masda Admi, M.Si tersebut menghadirkan sejumlah inovasi, mulai dari penerapan fermentasi pakan ternak hingga sistem irigasi tetes untuk tanaman pangan. Simulasi dilakukan bersama masyarakat sebagai bagian dari upaya transfer pengetahuan sekaligus pemanfaatan potensi lokal.

Dalam kegiatan itu, tim menyerahkan peralatan teknologi tepat guna berupa mesin pencacah rumput (chopper) dan alat penetasan telur. Bantuan tersebut ditujukan untuk mendukung produktivitas peternakan warga. Tim juga menyalurkan bibit rumput pakan ternak yang ditanam mahasiswa di lahan kelompok ternak sebagai bahan baku fermentasi pakan.

Di sektor pertanian, mahasiswa memperagakan pembuatan sistem irigasi tetes yang digunakan untuk budidaya tanaman pala wilaja. Teknologi ini diharapkan membantu warga mengoptimalkan lahan yang terdampak banjir, termasuk area yang mengalami sedimentasi pasir.

Pemilihan lokasi kegiatan didasarkan pada kondisi geografis Desa Teupin Raya yang berbatasan langsung dengan Sungai Peusangan, sehingga rentan banjir. Sebelum bencana, sebagian besar warga bergantung pada pertanian sawah, perkebunan, serta peternakan skala rumah tangga.

Program yang berlangsung sejak 3 Februari hingga 22 Februari 2026 ini melibatkan dua kelompok usaha masyarakat, yakni Kelompok Peternak Sejati dan Kelompok Petani Tangguh. Selain Dr. Masda, tim dosen yang terlibat antara lain Dr. Hendri Syah, S.Tp., M.Si; Ir. Said Mirza Pratama, S.Pt., M.Si., IPM; dan drh. Azhari, M.Si dengan kepakaran di bidang mikrobiologi, teknologi pertanian, nutrisi pakan ternak, dan kesehatan masyarakat veteriner.

Keuchik Teupin Raya, Syahrul Fuadi, S.Kom, menilai kegiatan tersebut memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Menurut dia, teknologi fermentasi membantu penyediaan pakan ternak, sementara irigasi tetes membuka peluang pemanfaatan kembali lahan bekas banjir.

Ia berharap pengetahuan dan peralatan yang diberikan dapat terus dimanfaatkan masyarakat untuk meningkatkan ketahanan pangan serta memperkuat pemulihan ekonomi di masa mendatang.

Sumber: https://presentatif.com/usk-uji-teknologi-fermentasi-dan-irigasi-tetes-untuk-pulihkan-ekonomi-warga-pascabanjir-di-bireuen/